Buletin Jumat (Takwa dan Cinta)

Sabar

Satu cara yang Allah berikan kepada kita kalau kita mau sukses dan bahagia dalam hidup, yaitu bermohon atau minta tolong melalui sabar dan shalat. Meski amat berat, sabar dan shalat itu bisa dilakukan oleh orang-orang yang mau dan serius. Jadi, harus ada kemauan dan keseriusan dalam melakukan suatu perbuatan. Lalu, ada apa di balik kata al-shabr-u di dalam al-Quran yang sering kali ditekankan?
Yang jelas, kata sabar memiliki makna yang berbeda-beda sesuai dengan konteksnya masing-masing. Misalnya, bagi seorang pelajar yang masih harus berjuang menguasai berbagai macam pemahaman dan pengetahuan untuk sukses dalam ujian nasional, maka sabar berarti tekun, teliti, gigih, dan ulet. Berbeda dengan seorang pelajar, orang yang tengah menderita karena ada cobaan sakit, maka sabar mengandung arti tabah. Orang yang tengah berjuang melawan pelbagai macam kezaliman, sabar baginya adalah keberanian. Jadi, sebenarnya orang yang sabar adalah orang yang tekun, gigih, ulet, teliti, tabah dan juga berani.
Orang yang sabar bukanlah orang yang diam saja, tidak merespons sedikitpun ketika terjadi sesuatu hal di hadapannya. Itu bisa berarti mengalah. Jelas, ada perbedaan antara sabar dan mengalah. Sabar mengandung unsur keberanian, yaitu keberanian dalam memperjuangkan kebenaran, tetapi tetap dengan cara-cara yang maslahat.
Rasulallah SAW sendiri sangat tegas dalam hal ini. Bahwa umat Islam dituntut untuk lebih menunjukkan kualitas kesabarannya dalam memperjuangkan suatu kebenaran dan melawan suatu kezaliman, yaitu dengan cara-cara yang maslahat, bukan dengan cara-cara yang mudlarat.
Dalam surat al-‘Ashr atau surat waktu, misalnya, Allah bersumpah, wa ‘l-‘Ashr-i, demi waktu. Karena kita sering sekali diperdaya oleh waktu. Kita sering lupa makna waktu bagi kita sehingga kita diperbudak oleh waktu dan stres karenanya. Kita juga sering keliru memaknakan uang, memaknakan jabatan, status sosial dan sebagainya. Kita menghitung-hitung uang yang kita harapkan dan yang kita dapatkan, tetapi kita tidak pernah berpikir dengan serius apa makna uang untuk kehidupan kita. Karena itulah, maka Rasulallah SAW menganjurkan kita untuk melakukan introspeksi diri. Shalat lima waktu (harian), shalat Jum’at (mingguan), shalat Ied al-Fitri dan Ied al-Adha (tahunan), dan shalat malam, yaitu Tahajjud merupakan wahana bagi kita untuk melakukan introspeksi selalu agar kita tidak terperdaya oleh waktu.
Maka, kata Allah SWT, demi waktu, sesungguhnya manusia semuanya dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman. Beriman berarti mengorientasikan hidup kita hanya kepada Allah. Kita bekerja tidak melupakan Allah, kita memimpin sesuatu tidak melupakan Allah, dan seterusnya. Dalam hal apa pun, kita tidak pernah melupakan Allah. Tak heran bila banyak para sufi yang hidupnya miskin, karena mereka khawatir kekayaan yang dimiliki dapat melupakan diri mereka kepada Allah. Jika tidak, maka kekayaan bukanlah suatu masalah.
Ada cerita menarik dalam hal ini. Ada orang yang mau belajar tentang tasawuf. Lalu datanglah dia kepada seorang guru sufi. Ternyata guru sufi yang mau dituju itu rumahnya besar, mewah, dan hartanya bergelimang. Setelah bertemu, maka ia pun membatalkan niatnya untuk berguru kepada orang yang katanya sufi tersebut. Dalam pikirannya muncul, “Tidak mungkin seorang sufi hidupnya kaya raya seperti itu.” Kemudian dia mencari guru sufi yang lain yang ternyata sangat miskin. Sarungnya saja sudah rombeng, rumahnya acak-acakan, lampunya cempor dan tikarnya sudah bulukan. Di dalam hatinya, dia mengatakan, “Ini adalah sufi yang benar.” Lalu dia berguru kepada sufi yang miskin ini. Setelah beberapa bulan sang guru sufi bertanya kepada muridnya, “Sebelum engkau bertemu dengan diriku, engkau bertemu dengan siapa?”? Awalnya dia lupa, tetapi lama-kelaman dia ingat, “Ya saya bertemu dengan seseorang yang katanya sufi, tapi saya tidak percaya kalau dia seorang guru sufi.” Kemudian gurunya bertanya, “Kenapa engkau tidak percaya?” Sang murid menjawab, “Tidak mungkin seorang guru sufi mobilnya mewah, rumahnya besar, dan hartanya melimpah.” Kemudian seorang guru sufi yang miskin itu dengan tersenyum menjawab, “Asal kamu tahu seorang yang kaya raya yang katanya guru sufi yang kamu tidak percaya itu adalah guru saya, karena dia sudah bisa mengendalikan kekayaannya tanpa melupakan cinta kasih-Nya, kedekatannya kepada Allah SWT.”
Ini adalah orientasi iman, yang tidak harus membuat kita miskin atau pun kaya. Boleh saja kita miskin dan boleh saja kita kaya. Malah lebih bagus kalau kita kaya, tapi juga beriman. Beriman dengan memberikan senyuman manis kepada yang lain atau membantu orang lain. Orang yang suka berzikir tidak harus miskin atau meminta-minta. Bisa saja ia adalah orang yang suka memberi. Itulah yang dinamakan dalam ayat ini sebagai amal saleh. Berbuat baik kepada sesama, memberikan kemuliaan, membantu orang banyak dan sebagainya. Dan kemudian dilanjutkan dengan dua kata kunci yang sangat menarik, saling mengingatkan dalam hal kebenaran dan saling menasehati dalam hal kesabaran.
Para ulama menerjemahkan dua kata terakhir ini, yaitu al-haq wa’l-shabr itu bagaikan dua sisi dari satu mata uang. Yang berarti bahwa hanya orang-orang yang memiliki kesabaran yang akan terus-menerus perpegang dan berada di dalam kebenaran. Karena, banyak orang yang baru beberapa saat berada di dalam kebenaran lalu karena banyak godaan akhirnya dia tidak sabar dan melepaskan kebenaran yang dipegang. Kebenaran memang harus diperjuangkan dengan kesabaran.
Sabar merupakan salah satu kata kunci dalam al-Quran. Kata ini mencakup banyak makna dan sangat mendalam. Dengan kesabaran kita dapat memperoleh kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup seperti suksesnya kehidupan Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim. Diceritakan bahwa keduanya sukses dalam hidup karena mereka termasuk orang-orang yang sabar. Suatu ketika Nabi Ibrahim bermimpi dalam tidurnya, diperintahkan untuk menyembelih Ismail. Maka, Ismail pun mempersilahkan Ayahnya untuk menyembelihnya jika itu memang perintah Allah SWT. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pun berhasil melewati ujian itu dengan kesabaran.

Naskah ini diambil dari khutbah Jum’at Muhamad Wahyuni Nafis, M.A, 30 Maret 2012