Klub Kajian Agama

Kajian Islam dalam Aroma Mozart

Musik dan hotel sering diidentikkan dengan sumber maksiat di kalangan Muslim tradisional. Paramadina mengubah citra itu dengan menjadikan hotel berbintang sebagai tempat pengajian bagi kalangan menengah atas perkotaan, yang belakangan menjadi trend umum di kota-kota besar Indonesia.

Selama ratusan kali sejak didirikan, Paramadina telah menyelenggarakan pengajian Klub Kajian Agama (KKA) dengan caranya yang khas: modern, inklusif, dan santai. Mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim menyebutnya sebagai “trend setter kajian Islam kelas menengah Indonesia.”

Atas gagasan Utomo Dananjaya, KKA diselenggarakan sebulan sekali, pada Jumat malam minggu ketiga setiap bulan, bertempat di hotel berbintang, ditemani sajian makanan dan denting piano musik klasik Mozart dan Beethoven.

Suasana santai diimbangi dengan isi pengajian yang serius. Dalam setiap pengajian tampil dua pembicara utama. Makalah pertama dari seorang pembicara tamu, sebagai pembicara utama, yang diundang untuk membahas satu topik tertentu. Makalah kedua dibuat oleh “kalangan dalam” Paramadina, dengan maksud memelihara keruntutan jalan pikiran seri diskusi itu dari awal sampai akhir. Selama masa hidupnya, Nurcholish Madjid menjadi pembicara “kalangan dalam” itu.

Pengajian pertama digelar pada 28 November 1986, menampilkan Prof. Dr. Munawir Sjadzali (waktu itu Menteri Agama RI) yang membawa makalah bertema “Reaktualisasi Ajaran Islam“.

Dengan sistem keanggotaan dan partisipasi sukarela serta tradisi pembahasan yang bersifat pluralistik, terbuka, dan tenggang rasa, KKA berjalan lancar dan berkelanjutan, sejak pertama kali diadakan pada Oktober 1986. Setiap pengajian diikuti rata-rata 200-250 orang. KKA terakhir, yang ke-214, diselenggarakan Oktober 2011.

Lewat pengajian seperti inilah, Paramadina telah mencetak ribuan alumni di kalangan pengusaha, pejabat, dan akademisi yang berpengaruh, serta datang dari latar belakang kultur keagamaan yang beragam. Tak berlebihan jika dikatakan KKA merupakan esensi dari Paramadina. Nurcholish menyebutnya sebagai “gua garba Paramadina“, atau rahim Paramadina.

Makalah dan komentar Nurcholish dalam pengajian itu kelak dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul “Doktrin Islam dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan” (1992), yang merupakan buku terpenting pemikiran Nurcholish.

Pembahasan dalam makalah-makalah Paramadina tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga dikaitkan dengan segi peradaban Islam yang berkaitan, jika mungkin sebagai pembuktian historis perwujudan norma-norma dalam ajaran itu. Dalam sejarah dan peradaban itulah “tali hubungan dengan Allah” diterjemahkan secara nyata menjadi “tali hubungan dengan sesama manusia“.

Pengajian-pengajian Paramadina menekankan bahwa agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tapi bukan kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan. (*)