Sejarah Yayasan

Dari Sebuah Pojok Sejarah,
Untuk Keislaman & Keindonesiaan


Paramadina adalah sekolah, dalam maknanya yang luas. Meski menyelenggarakan kursus dan universitas, kandungan kegiatan yayasan ini lebih luas dari sekadar proses belajar dan mengajar. Dengan caranya yang unik, dalam 20-an tahun terakhir Paramadina terlibat membantu masyarakat Islam perkotaan menghadapi situasi yang berubah.Yayasan Paramadina resmi berdiri pada 31 Oktober 1986 melalui sebuah acara di Jakarta. Acara peresmian diisi ceramah umum Dr. Nurcholish Madjid dan Prof. Dr. Emil Salim. Ceramah Cak Nur, panggilan akrab Nurcholish Madjid, berjudul “Keislaman dan Keindonesiaan: Menatap Masa Depan“, meringkaskan misi sekaligus menjadi titik pijak yayasan.Paramadina terutama didirikan untuk melayani kebutuhan kelas menengah baru Islam di Indonesia. Bagi kalangan ini, pendidikan Islam tradisional yang dibarengi dengan afiliasi dalam organisasi-organisasi massa tradisional tak lagi cukup memuaskan kebutuhan keagamaan dan spiritual. Mereka dahaga mencari pengetahuan Islam yang lebih cocok dengan zaman yang berubah, dan rindu menemukan organisasi yang menurut pikiran dan perasaan mereka lebih terbuka. Mereka juga menghargai keragaman penafsiran atas teks-teks keagamaan dan terpanggil untuk memanfaatkan pemikiran kritis mereka.

Ketika Paramadina didirikan, umat Islam Indonesia mengalami era “banjir intelektual” (intellectual booming) menyusul panen sarjana pada dasawarsa sebelumnya. Mereka yang baru masuk sekolah segera setelah Kemerdekaan mulai lulus dari universitas. Kalangan menengah baru ini cenderung memiliki orientasi program ke luar (outward looking), yang berbeda dengan sebelumnya, yang masih membenahi urusan rumah tangga sendiri (inward looking). Paramadina mengantisipasi kehadiran kalangan ini, yang kerja-kerja produktifnya mulai terarah ke luar dan lebih bersifat problem solving.

Tujuan Paramadina adalah memungkinkan bangsa Indonesia, khususnya kaum Muslim, menghadapi masa depannya dan memanfaatkan Islam sebagai sumber yang kaya akan nilai-nilai bersama, yang bisa menjadi dasar pembangunan pribadi, kelembagaan dan nasional Indonesia.

Literatur terbitan Paramadina banyak yang mempromosikan pandangan bahwa tradisi Islam tidak semestinya dipandang sebagai halangan, melainkan sebagai sarana bagi kemajuan bangsa Indonesia. Hal ini tercermin dalam pernyataan yang hampir selalu tercetak pada kulit buku terbitan Paramadina: “Berjuang untuk sebuah penyadaran keterpaduan antara keislaman dan keindonesiaan.”

Meski awalnya dianggap elitis, belakangan luas diakui bahwa Paramadina berjasa membuat kalangan menengah Indonesia memiliki sikap positif terhadap Islam dan bergairah untuk mencari pengetahuan Islam yang lebih mendalam.

Dalam 20-an tahun terakhir, Paramadina juga menyelenggarakan kajian-kajian paket keislaman, seminar, dan penerbitan buku. Salah satu program unggulan Paramadina sejak berdiri adalah Klub Kajian Agama (KKA) yang diselenggarakan sebulan sekali. Sampai akhir 2006, telah 200 kali lebih KKA digelar dan menghasilkan ribuan “alumni”. Dari segi inilah Paramadina terlibat dalam inovasi sosial dan institusional, dan menjadi benih penyemaian pemikir-pemikir muda Islam.

Selama tiga dasawarsa, modernisasi, industrialisasi dan urbanisasi, migrasi dan globalisasi telah menyebabkan perubahan sosial secara cepat di Indonesia. Proses itu berlangsung bersamaan dengan kebangkitan Islam secara keseluruhan dan dengan kemunculan kelas menengah Muslim yang lebih terdidik. Kelas menengah ini terus mencari identitas keagamaan baru pula. Pencarian mereka membuka bentuk-bentuk baru pendidikan Islam.

Siapa saja yang akrab dengan konsep sentral pemikiran Cak Nur akan menyimpulkan bahwa baik dalam nama maupun tujuan utama, Paramadina mencerminkan perwujudan gagasan-gagasan beliau. Dia merupakan sumber simbolik dari inspirasi yang ada terus-menerus.

Keterlibatan Cak Nur terutama adalah mengilhami gagasan dan kegiatan yang beragam, mendorong dan mengawalinya, untuk kemudian menyerahkannya pada orang lain. Dengan kata lain, Paramadina bukanlah sebuah organisasasi Cak Nur saja (one man organization). Beberapa komite pengawas bertanggungjawab atas pelaksanaan kegiatan.

Selama bertahun-tahun kantor yayasan ini berlokasi di sebuah rumah toko pusat pertokoan Pondok Indah, kawasan cukup elit di selatan Jakarta, dengan fasilitas sederhana. Beberapa dermawan memasok dana yang memungkinkan Cak Nur dan kawan-kawannya membeli kompleks perkantoran baru pada 2002-2003.

Paramadina didirikan oleh para tokoh cendekiawan dan wiraswastawan muda Indonesia. Pada awalnya, Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, Utomo Dananjaya, Fahmi Idris dan banyak lainnya, bekerjasama dengan pengusaha seperti Abdul Latif dan Ahmad Ganis, membentuk kelompok studi keagamaan. Studi keagamaan ini agak tidak lazim pada masanya: mendengarkan perbicangan agama dengan khidmad dan santai, sambil menikmati makanan dan denting piano di tengah suasana hening malam Jakarta.

Paramadina pada awalnya berkonsentrasi pada kegiatan intelektual, kursus, seminar dan sejenisnya. Namun, selama bertahun-tahun kemudian jumlah kegiatan terus bertambah. Ratusan orang kini berpartisipasi secara reguler dalam kursus dan seminar yang diselenggarakannya. Yayasan ini bahkan belakangan memiliki lembaga pendidikan formalnya sendiri, Universitas Paramadina, yang berdiri pada 1998.

Paramadina tidak dibiayai oleh negara dan bersandar hanya pada keanggotaan dan kontribusi para dermawan. Hal ini membuat Paramadina memiliki kebebasan untuk bergerak.

Yayasan ini juga memiliki Baitul Mal Paramadina yang merupakan salah satu lembaga otonom yang bertujuan mengumpulkan zakat dan hibah. Cara pengumpulan dana seperti ini lazim di kalangan Muslim di seluruh dunia. Dalam kasus Paramadina, kegiatan ini berhasil baik sehingga hal itu bisa memperluas kegiatan dan operasi yayasan. Tujuan komprehensif lembaga ini adalah mengurangi kemiskinan intelektual, mempromosikan riset tentang peran agama dalam masyarakat dan menerbitkan buku-buku keislaman.

Kajian-kajian keagamaan Paramadina memang pertama-tama ditujukan untuk kalangan menengah ke atas: dari komunitas bisnis, pejabat pemerintahan, intelektual, akademisi, mahasiswa hingga anggota masyarakat lain dari kalangan kelas menengah yang sedang tumbuh di Indonesia. Tapi mereka bukan tujuan akhir.

Kalangan di atas adalah trend makers dan opinion makers, yang potensial meneteskan gagasan ke bawah dan dalam cara yang lebih luas. Proses seperti ini disadari akan memakan waktu satu atau dua generasi. Seperti kata Cak Nur sendiri: “Gagasan harus menyebar secara perlahan seperti cincin bergerak dalam air, melalui teman dan kolega yang ikut andil dalam melakukan kerja organisasi untuk membantu penyebaran gagasan.”

Ada alasan lain kenapa kelompok menengah dan ataslah yang menjadi prioritas: membantu mereka yang menderita keterasingan akibat proses pembangunan dan globalisasi. Untuk memenuhi dahaga akan spiritualitas ini, Paramadina menyelenggarakan kursus-kursus tentang sufisme bagi kalangan menengah perkotaan, yang sangat populer pada 1980-an dan 1990-an. Hingga kini kursus-kursus sejenis masih berlangsung.

Dalam mencapai cita-citanya, Paramadina juga bekerjasama dengan berbagai lembaga keislaman bermisi serupa, yang memiliki sikap kultural terbuka dan independen, seperti Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), dan Indonesian Center for Islam and Pluralism (ICIP). Yayasan juga bekerjasama dengan lembaga pengkajian umum seperti Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan media seperti Kompas.

Dengan cara itu, Paramadina juga menjadi semacam titik simpul jaringan tak hanya bagi gerakan keislaman tapi juga gerakan nasionalisme demokratis Indonesia yang mencapai puncaknya pada Reformasi 1998. Paramadina berkiprah tak hanya untuk pemberdayaan masyarakat Muslim, melainkan juga untuk kebangsaan Indonesia. (*)